Kewajiban untuk Berani Jujur
Bacalah carita berikut ini!
Jumat siang itu, setelah pelajaran berakhir, siswa kelas VI SD Persahabatan tidak langsung keluar kelas. Ada yang memanggil nama teman, ada yang mengobrol berdua, dan sebagian besar berkerumun dalam kelompok berisi tiga sampai empat anak. Mereka membicarakan tugas yang harus dikerjakan pada hari Sabtu dan Minggu untuk dikumpulkan pada hari Senin. Tugas tersebut adalah membuat prakarya dari barang-barang bekas.
Indi tampak ceria karena satu kelompok dengan Memey yang rumahnya berdekatan. Manda dan Abas juga menjadi anggota kelompoknya. Mereka dikenal sebagai anak yang rajin dan menyenangkan meskipun rumah mereka berada di ujung desa. Sementara itu, Bonar tampak agak kecewa. Meski satu kelompok dengan Sedi dan Pigey, ia merasa Hendra dan Pipin bukan teman yang diharapkannya.
Kelompok Bonar dan kelompok Indi sepakat mengerjakan tugas prakarya di selasar sekolah pada hari Minggu. Mereka akan membuat perabot atau barang bermanfaat dari sampah plastik.
Pada hari Minggu sekitar pukul delapan pagi, Indi, Memey, dan Manda sudah tiba di sekolah. Mereka segera membongkar barang bawaan berupa berbagai macam plastik bekas yang akan digunakan untuk membuat hiasan bunga dan vas. Sambil menunggu teman-temannya, mereka mulai menggunting bahan-bahan tersebut. Abas datang terlambat karena baru mendapatkan potongan paralon yang ukurannya sesuai untuk dijadikan vas. Diameter paralon bekas yang ditemukan sebelumnya terlalu besar.
Keempat anak itu mengerjakan prakarya sambil bergurau dan mengobrol. Beberapa tangkai bunga sudah siap dirangkai. Abas masih berusaha menggergaji paralon agar tidak terlalu panjang sebelum ditempelkan pada alas berbentuk segi empat yang terbuat dari bekas tutup kotak makan. Tak terasa hari semakin siang. Namun, hingga pukul sepuluh, Bonar dan kelompoknya belum juga datang.
“Bonar dan teman-temannya kok belum tampak, ya?” tanya Memey.
“Iya. Kapan mereka akan mengerjakan tugas mereka, ya? Belum ada satu pun yang datang dari kelompok mereka,” jawab Indi.
Di luar dugaan Memey dan teman-temannya, ternyata Bonar dan kelompoknya sedang memancing di kolam pemancingan yang baru saja dibuka dan cukup ramai pengunjung. Sebenarnya, mereka tidak berniat memancing. Awalnya, mereka pergi untuk mencari barang-barang bekas sebagai bahan prakarya. Mereka juga belum menyepakati bentuk prakarya yang akan dibuat.
Dalam kebingungan itu, Sedi mengusulkan mencari bahan-bahan terlebih dahulu di dekat pasar. Sebelum sampai di pasar, mereka berbelok ke arah tempat pemancingan. Di dekat lokasi tersebut terdapat bangunan yang belum selesai dibangun. Di sana tampak berbagai barang bekas, seperti ember bekas cat, botol air mineral, dan potongan paralon berdiameter kecil.
Saat mulai mengumpulkan barang-barang bekas, tanpa sengaja mereka bertemu Kak Daru, kakak kelas yang kini bersekolah di SMP. Kak Daru mengajak mereka memancing. Tanpa berpikir panjang, Bonar dan teman-temannya menerima ajakan itu, kecuali Pipin.
“Bukankah kita hendak mengerjakan tugas di sekolah?” tanya Pipin mengingatkan.
“Ah, hanya sebentar, kok, Pin. Tidak akan lama,” jawab Bonar yang disetujui Hendra, Sedi, dan Pigey.
Waktu berlalu. Bonar, Hendra, Sedi, dan Pigey seperti lupa dengan tugas yang harus dikumpulkan hari Senin. Pipin, satu-satunya anak perempuan dalam kelompok tersebut, hanya mengikuti mereka. Ia duduk sendirian di dekat tempat parkir dengan wajah sedih dan marah.
Ketika waktu menunjukkan pukul dua belas siang, Sedi mulai merasa lapar dan haus. Ia melihat Pipin sedang membaca koran di dekat tempat parkir.
“Bonar, bukankah kita sudah berjanji dengan Memey dan Indi untuk bertemu di sekolah pagi ini?” tanya Sedi.
“Eh, iya, ya? Aduh! Bagaimana dengan tugas prakarya kita? Kita mau buat apa jadinya?” sahut Bonar terperanjat.
“Saya tadi sudah berpikir begitu, tetapi kalian tampak asyik sekali,” kata Pigey.
“Aduh, gawat! Ayo, kita ke sekolah!” ajak Bonar.
Mereka segera berpamitan kepada Kak Daru. Sementara itu, Pipin masih tampak jengkel karena pendapatnya tidak didengarkan.
Sesampainya di sekolah, mereka tidak menemukan siapa pun. Bekas potongan plastik kecil masih terlihat di sekitar tempat sampah. Suasana sekolah tampak lengang. Mereka saling berpandangan lalu duduk di lantai selasar sekolah. Udara yang panas membuat mulut terasa kering. Rasa bingung dan kecewa terlihat jelas di wajah mereka.
“Bagaimana sekarang? Kita mau membuat prakarya apa?” tanya Pipin.
Pigey mengusulkan membuat wadah kantong plastik dari botol air mineral bekas yang dilubangi dan dicat. Bonar dan Hendra cukup setuju dengan ide tersebut. Namun, Pipin menanggapi bahwa tugas itu terlalu sederhana untuk anak kelas VI.
Meskipun demikian, mereka tetap mencoba membuatnya. Sayangnya, tidak ada yang membawa cat, kuas, atau cutter. Mereka hanya menggunakan gunting untuk melubangi botol. Setelah satu jam bekerja, hasil lubang yang dibuat tidak rapi dan ukurannya berbeda-beda. Mereka baru menyadari bahwa pekerjaan tersebut tidak semudah yang dibayangkan.
Tak lama kemudian, Sedi mengajak teman-temannya pulang karena ingin salat dan merasa lapar. Mereka sepakat melanjutkan pekerjaan nanti sore di rumah Sedi. Namun, Pipin tidak menjanjikan akan datang. Akhirnya, kelima anak itu pulang ke rumah masing-masing.
Pada sore hari, Bonar datang ke rumah Sedi membawa sebuah tempat tisu yang terbuat dari anyaman sedotan bekas. Kerajinan itu sebenarnya dibuat oleh bibinya. Bonar mengusulkan agar benda tersebut saja yang dikumpulkan sebagai hasil prakarya kelompok mereka. Sedi menyetujui usulan itu.
Keesokan harinya, setelah upacara bendera hari Senin, semua kelompok menunjukkan hasil karya mereka. Memey penasaran dengan hasil karya kelompok Bonar, tetapi Sedi terus menutupinya dengan tas plastik putih.
Sebelum karya dikumpulkan, Bu Guru meminta setiap kelompok menjelaskan proses dan cara pembuatannya di depan kelas. Pipin mengangkat tangan dan meminta agar kelompoknya diberi kesempatan presentasi besok. Bu Guru merasa heran karena mereka sudah diberi waktu dua hari untuk mengerjakan tugas.
Setelah mendengar penjelasan Pigey tentang apa yang sebenarnya terjadi, Bu Guru memahami bahwa mereka telah lalai menjalankan tugas karena tergoda untuk memancing dan menghabiskan waktu di sana.
“Apa yang kamu lakukan, Pipin?” tanya Bu Guru.
“Saya kesal sekali. Mereka tidak mau mendengar setiap kali saya mengingatkan,” jawab Pipin.
Bu Guru kemudian menjelaskan bahwa kelas sudah membuat kesepakatan untuk selalu tepat waktu dan saling menghormati pendapat teman, baik laki-laki maupun perempuan. Karena itu, kelompok Sedi, Bonar, Hendra, dan Pigey tidak diberi kesempatan tambahan untuk menyelesaikan tugas dan tidak memperoleh nilai prakarya.
Bu Guru memuji kejujuran Pigey dan memberi kesempatan kepada Pipin untuk membuat prakarya sendiri yang akan dikumpulkan pada Senin berikutnya.
“Silakan kalian renungkan mengapa kalian lalai menjalankan tanggung jawab. Lain kali, kerjakan tugas dengan lebih baik dan jangan diulangi,” pesan Bu Guru.
“Baik, Bu,” jawab Bonar dan teman-temannya sambil mengangguk.
Tamat!
Refleksi Karakter: Menghargai Perbedaan
Petunjuk: Pilih jawaban yang paling sesuai dengan dirimu.
Bacalah teks cerita teks di atas dengan saksama. Kemudian, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan jelas dan lengkap berdasarkan isi cerita!
Soal Uraian
- Mengapa Bonar dan teman-temannya dianggap tidak melaksanakan kewajiban sebagai pelajar?
- Bagaimana sikap Pipin dalam menjalankan kewajibannya sebagai anggota kelompok?
- Sebutkan dua kewajiban anak yang dapat ditemukan dalam cerita tersebut!
- Apa akibat yang diterima Bonar, Sedi, Hendra, dan Pigey karena tidak melaksanakan kewajiban mereka?
- Pelajaran apa yang dapat kalian ambil tentang kewajiban anak dari cerita tersebut? Jelaskan!
.jpg)
Posting Komentar untuk "Kewajiban untuk Berani Jujur"
Posting Komentar