Nilai-Nilai dalam Cerita Rakyat
Simaklah cerita “Doa-Doa dalam Sumur Tua”. Lalu, jawablah pertanyaan sesuai isi cerita.
Doa-Doa dalam Sumur Tua
Si Murai Kecil sudah mulai bisa terbang. Dia bersemangat sekali. Pagi itu dia terbang jauh dari sarang dan lupa berpamitan kepada ibunya. Musim kemarau hampir berakhir. Terkadang angin bertiup cukup kencang.
Terbang agak jauh membuat Murai Kecil kelelahan. Saat dia terbang merendah hendak beristirahat, tiba-tiba angin bertiup kencang. Tubuh Murai Kecil terhempas dan terjatuh ke dalam sebuah sumur tua. Tubuhnya yang mungil menghantam dinding-dinding sumur dan terlempar ke dasar sumur yang kering.
Murai Kecil kesakitan. Sayap kecilnya terluka. Dia tidak bisa terbang. Murai Kecil menatap dinding-dinding sumur yang gelap. Dia mulai ketakutan. Sendirian dalam sebuah sumur tua sungguh mengerikan. Murai Kecil berusaha mengepak-ngepakkan sayapnya, mencoba terbang. Namun, dia tidak berhasil. Luka di sayapnya terasa ngilu.
“Apa yang harus aku lakukan?” gumam Murai Kecil, sedih.
Saat dia mendongak, dia melihat cahaya matahari yang memancar dari balik daun-daun di atas sana. Sedikit cahaya membuatnya merasa lebih baik.
“Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah berdoa,” ucapnya merasa lebih tenang.
Namun, saat hendak berdoa, Murai Kecil bingung, doa apa yang harus dia panjatkan. Sendirian dalam sumur tua sungguh mengerikan. Sepertinya dia butuh teman. Murai Kecil pun mulai berdoa kepada Tuhan.
Tak lama kemudian, seekor tupai terlontar dari atas sumur. Murai Kecil benar-benar kaget.
“Maaf membuatmu kaget,” kata si Tupai. “Tiba-tiba aku terpeleset saat melompat.”
“Kamu terpeleset atas kehendak Tuhan supaya kamu menemaniku di sini,” ucap Murai Kecil senang.
“Kenapa aku harus menemanimu? Aku bisa melompat naik kalau aku mau,” ujar si Tupai tak peduli.
Murai Kecil sangat sedih mendengarnya.
Si Tupai mulai mendongak ke atas, mengamati dinding-dinding sumur. Dengan gerakan cepat dia melompati dinding-dinding sumur. Namun, saat hampir sampai di atas, tubuhnya kembali tergelincir. Dia mencobanya lagi dan lagi. Namun, dinding sumur itu memang cukup licin untuk dia lompati.
“Licin sekali,” ujar si Tupai kesal dan kelelahan.
“Tuhan ingin kamu tetap di sini menemaniku,” kata Murai Kecil lagi.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya si Tupai penuh curiga.
“Aku terperosok ke dalam sumur tua ini, dan sayapku terluka. Aku tak tahu harus berbuat apa, akhirnya aku berdoa kepada Tuhan supaya didatangkan seorang teman.”
“Itu doa yang konyol,” kata si Tupai. “Gara-gara doamu sekarang aku terjebak di sini.”
“Maaf, aku tak bermaksud begitu,” ungkap Murai Kecil menyesal. “Aku sangat takut sendirian di sini. Sebab itu aku berdoa meminta teman.”
“Seharusnya kamu berdoa supaya Tuhan mengeluarkanmu dari sumur ini,” saran si Tupai dengan bijak.
“Kamu benar, mengapa itu tak terpikirkan olehku?” kata Murai Kecil.
“Tuhan mengabulkan doa sesuai permintaan hamba-Nya,” ungkap si Tupai lagi.
“Kalau begitu, sebaiknya sekarang kita berdoa lagi,” kata Murai Kecil bersemangat.
“Aku akan berdoa supaya Tuhan mengeluarkanku dari tempat ini,” sahut si Tupai.
“Aku juga,” Murai Kecil menukas. “Selain itu, aku juga akan berdoa supaya Tuhan mendatangkan makanan. Aku lapar sekali,” sambungnya.
Sejenak, suasana menjadi hening. Murai Kecil dan si Tupai mulai berdoa. Tak lama kemudian, mereka mendengar angin berhembus dari atas sumur. Seekor laba-laba turun berayun-ayun dan menempel di dinding sumur. Si Laba-laba sangat terkejut saat di dasar sumur menjumpai Murai Kecil dan si Tupai.
“Anginnya kencang sekali, sampai aku terlempar ke sini,” kata si Laba-laba.
Murai Kecil dan si Tupai sama-sama heran. Mereka memohon kepada Tuhan supaya dikeluarkan dari sumur ini, tetapi yang datang malah seekor laba-laba.
“Atau mungkin laba-laba itu didatangkan Tuhan sebagai makanan untukmu?” kata si Tupai ragu-ragu.
Mendengar kata-kata si Tupai, Laba-laba jadi ketakutan. Dia kembali merangkak naik.
“Jangan takut, kami tidak akan mencelakaimu,” kata Murai Kecil.
“Namun, sebaiknya aku naik. Anak-anakku menunggu di atas,” balas si Laba-laba.
Karena tubuhnya sangat mungil, memanjat dinding sumur bukan perkara sulit bagi Laba-laba.
“Sebelum kamu naik, bolehkah kami meminta tolong kepadamu?” ujar Murai Kecil tiba-tiba.
Si Laba-laba menatap Murai Kecil dan si Tupai bergantian.
“Kami terjebak di sini dan sayapku terluka. Kami berdoa kepada Tuhan supaya dikeluarkan dari tempat ini, dan setelah itu kamu datang,” Murai Kecil menjelaskan.
“Memangnya apa yang bisa kulakukan untuk menolong kalian?” tanya si Laba-laba.
“Bisakah kamu memberi tahu ibuku? Aku menunggunya di sini. Sarang kami ada di pohon beringin besar di samping sungai.”
“Oh, tidak. Terima kasih. Ibumu pasti akan langsung mematukku saat kami bertemu,” jawab si Laba-laba.
“Bilang saja kepadanya, aku yang mengutusmu. Dia tidak akan mencelakaimu.”
“Siapa yang bisa menjamin itu?” kata si Laba-laba sambil terus memanjat dinding, meninggalkan Murai Kecil dan si Tupai yang malang.
Sesampainya di atas sumur, pikiran si Laba-laba menjadi tidak tenang. Dia ingin menolong Murai Kecil dan si Tupai, tetapi di sisi lain dia takut kalau Ibu Murai itu bakal menyantapnya. Setelah berpikir agak lama, akhirnya si Laba-laba memutuskan untuk pergi menemui Ibu Murai. Dia yakin, saat dia berbuat baik pasti Tuhan akan menolongnya.
Sesampainya di dekat sarang di atas pohon beringin besar, nyali si Laba-laba jadi ciut. Dia melihat Ibu Murai yang besar dengan bulu-bulu hitam mengilap dan paruhnya yang tajam. Saat si Laba-laba bergerak mundur, Ibu Murai melihatnya.
“Apa yang kamu lakukan di dekat sarangku, wahai Laba-laba?”
Dengan suara gagap si Laba-laba menjawab, “Anakmu terperosok ke dalam sumur bersama seekor tupai. Sayapnya terluka. Dia butuh pertolonganmu.”
“Naiklah ke atas punggungku, jangan takut. Aku tak akan menyakitimu,” kata Ibu Murai.
Dengan gemetar si Laba-laba naik ke punggung Ibu Murai. Terbanglah mereka menuju sumur tua.
Di dasar sumur, Murai Kecil dan si Tupai sudah pasrah.
“Sebaiknya kita berdoa yang banyak kepada Tuhan. Semakin banyak berdoa semakin bagus,” kata si Tupai.
Mereka pun mulai berdoa. Sumur tua menjadi sangat hening. Tak lama berselang, mereka mendengar kepakan sayap bertubi-tubi dari atas. Tak salah lagi, itu Ibu Murai. Si Laba-laba sudah menolong mereka.
“Lihatlah! Doa kita bekerja!” kata Murai Kecil.
“Si Laba-laba adalah jawaban dari doa-doa kita,” sahut si Tupai gembira.
“Kamu dan si Laba-laba adalah jawaban atas doa-doaku,” ujar Murai Kecil, penuh terima kasih.
Semenjak hari itu, mereka semakin rajin berdoa. Tuhan benar-benar Maha Mendengar.
Untuk memahami cerita "Doa-doa dalam Sumur Tua" kamu juga dapat mendengarkan versi audio dari cerita tersebut.
Dengarkan cerita
Soal
- Menurutmu, apa kesalahan pertama si Murai Kecil sehingga ia terperosok ke dalam sumur tua?
- Apakah menurutmu, doa si Murai Kecil yang meminta didatangkan seorang teman adalah doa yang baik?
- Andai kamu menjadi si Murai Kecil, doa apa yang pertama kali akan kamu panjatkan? Mengapa?
- Seandainya si Tupai dan Laba-laba tidak datang, kira-kira apa yang akan dilakukan oleh si Murai Kecil?
- Sebutkan setidaknya tiga pelajaran berharga dari cerita di atas!
.jpg)
Posting Komentar untuk "Nilai-Nilai dalam Cerita Rakyat"
Posting Komentar